TUGAS TERSTRUKTUR 12
Potret Toleransi di Kampus Universitas Mercu Buana: Refleksi Kritis atas Tantangan Hidup dalam Keberagaman
Pendahuluan
Sebagai mahasiswa Universitas Mercu Buana, saya berada dalam lingkungan akademik yang merepresentasikan keberagaman latar belakang agama, budaya, dan cara pandang. Kampus idealnya menjadi ruang aman bagi pertukaran gagasan yang sehat sekaligus tempat tumbuhnya nilai toleransi. Dalam refleksi pribadi saya, toleransi tidak sekadar dimaknai sebagai sikap membiarkan perbedaan, melainkan kesediaan untuk menghormati hak setiap individu dalam mengekspresikan keyakinan dan identitasnya secara setara. Namun, berdasarkan pengamatan saya selama menjalani aktivitas akademik di Universitas Mercu Buana, praktik toleransi di lingkungan kampus masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu dikaji secara kritis.
Deskripsi Realita
Dalam keseharian sebagai mahasiswa, saya mengamati bahwa interaksi antar mahasiswa di kampus cenderung berjalan kondusif di permukaan, tetapi menyimpan tantangan toleransi yang tidak selalu tampak secara eksplisit. Tantangan tersebut muncul dalam diskusi kelas, kegiatan organisasi mahasiswa, maupun interaksi informal. Pada beberapa kesempatan diskusi akademik, saya melihat adanya kecenderungan sebagian mahasiswa menyampaikan pendapat dengan sudut pandang yang sangat normatif berdasarkan keyakinan pribadi, tanpa membuka ruang dialog bagi pandangan yang berbeda.
Selain itu, terdapat pola pengelompokan sosial yang cukup kuat berdasarkan kesamaan latar belakang agama atau ideologi. Walaupun pengelompokan ini dapat dipahami sebagai bentuk kenyamanan sosial, dalam praktiknya hal tersebut sering menciptakan jarak antar kelompok mahasiswa. Saya juga mengamati bahwa mahasiswa dari kelompok minoritas cenderung lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat, terutama pada isu-isu sensitif. Situasi ini menunjukkan bahwa toleransi di kampus masih bersifat pasif, yaitu tidak adanya konflik terbuka, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan keterbukaan dan kesetaraan partisipasi.
Refleksi dan Analisis
Menurut refleksi saya, tantangan toleransi di Universitas Mercu Buana dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal mahasiswa. Banyak mahasiswa membawa nilai dan pola pikir dari lingkungan sosial sebelumnya yang belum sepenuhnya terbuka terhadap perbedaan. Kampus sering diasumsikan sebagai ruang netral yang otomatis menumbuhkan toleransi, padahal nilai tersebut membutuhkan proses pendidikan sosial yang sadar dan berkelanjutan.
Di sisi lain, pemahaman toleransi di kalangan mahasiswa sering kali masih terbatas pada konsep “tidak mengganggu pihak lain”. Padahal, dalam konteks nilai kebangsaan, toleransi menuntut pengakuan aktif terhadap keberagaman sebagai bagian dari identitas bersama. Jika dikaitkan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika, kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara idealisme kebangsaan dan praktik sosial di lingkungan akademik.
Dari sudut pandang akademik, fenomena ini dapat dianalisis melalui perspektif sosiologis tentang dominasi wacana, di mana pandangan kelompok mayoritas cenderung dianggap sebagai standar kebenaran. Akibatnya, kelompok lain berada pada posisi yang kurang setara dalam proses komunikasi. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi melemahkan fungsi kampus sebagai ruang pembentukan karakter demokratis dan inklusif.
Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan dan refleksi saya sebagai mahasiswa Universitas Mercu Buana, dapat disimpulkan bahwa toleransi di lingkungan kampus masih menghadapi tantangan, terutama dalam bentuk intoleransi pasif, dominasi pendapat, dan jarak sosial antar kelompok. Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat pengembangan intelektual, tetapi juga ruang pembelajaran nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Pembelajaran penting yang saya peroleh adalah bahwa toleransi tidak tumbuh secara otomatis dari keberagaman, melainkan harus dibangun melalui kesadaran kritis, dialog terbuka, dan peran aktif institusi pendidikan.
Ke depan, saya berharap Universitas Mercu Buana dapat semakin memperkuat ruang dialog lintas perbedaan dan menanamkan pemahaman toleransi yang substantif. Dengan demikian, kampus dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan komitmen terhadap persatuan dalam keberagaman.

Komentar
Posting Komentar