TUGAS STRUKTUR 11 E-14
Merancang Strategi Ketahanan Ideologi di Media Sosial dalam Perspektif Astagatra
Nama : Fika Syakila Anajwa
NIM : 43125010217
Mata Kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan
NIM : 43125010217
Mata Kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan
Pendahuluan
Perkembangan media sosial telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat Indonesia mengakses informasi, berinteraksi, dan membentuk opini publik. Media sosial tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga arena pertarungan ideologi, nilai, dan kepentingan. Dalam konteks Ketahanan Nasional, kondisi ini menjadikan ketahanan ideologi sebagai salah satu sektor paling rentan terhadap ancaman disintegrasi, terutama karena media sosial mampu menyebarkan informasi secara cepat, masif, dan tanpa filter yang memadai.
Dalam perspektif Astagatra, ketahanan ideologi merupakan bagian dari Pancagatra yang memiliki keterkaitan erat dengan gatra politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Lemahnya ketahanan ideologi di ruang digital berpotensi menggerus nilai Pancasila, memperkuat polarisasi, serta mengancam persatuan nasional. Oleh karena itu, penguatan ketahanan ideologi di media sosial menjadi kebutuhan strategis dan mendesak.
Analisis Ancaman (Anasir Disintegrasi)
Dalam perspektif Astagatra, ketahanan ideologi merupakan bagian dari Pancagatra yang memiliki keterkaitan erat dengan gatra politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Lemahnya ketahanan ideologi di ruang digital berpotensi menggerus nilai Pancasila, memperkuat polarisasi, serta mengancam persatuan nasional. Oleh karena itu, penguatan ketahanan ideologi di media sosial menjadi kebutuhan strategis dan mendesak.
Analisis Ancaman (Anasir Disintegrasi)
1. Disinformasi dan Propaganda Ideologis
Anasir disintegrasi utama berasal dari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan propaganda ideologis yang bertentangan dengan Pancasila. Ancaman ini bersifat non-fisik, internal dan eksternal, serta sering dimanfaatkan aktor politik, kelompok radikal, maupun pihak asing. Disinformasi yang masif dapat melemahkan kepercayaan publik terhadap negara, memicu konflik horizontal, dan mengikis nilai persatuan.
2. Polarisasi Sosial dan Echo Chamber Digital
Media sosial cenderung membentuk echo chamber, di mana pengguna hanya terpapar pandangan yang sejalan dengan keyakinannya. Kondisi ini memperkuat polarisasi sosial dan politik, sehingga masyarakat mudah terfragmentasi ke dalam kelompok-kelompok ideologis yang saling berseberangan. Polarisasi yang berlarut-larut berpotensi memicu disintegrasi bangsa.
Analisis Interdependensi Gatra
Ketahanan ideologi di media sosial memiliki hubungan timbal balik dengan beberapa gatra lain. Pertama, Gatra Politik, di mana lemahnya ketahanan ideologi dapat mengganggu stabilitas demokrasi, legitimasi pemerintah, dan proses pemilu akibat manipulasi opini publik. Kedua, Gatra Sosial Budaya, karena nilai toleransi, gotong royong, dan Bhinneka Tunggal Ika dapat tergerus oleh narasi intoleran dan radikal di ruang digital. Dengan demikian, penguatan ketahanan ideologi secara langsung berkontribusi pada stabilitas politik dan keharmonisan sosial budaya.
Desain Strategi Simulatif
Nama Program
“Program Literasi Ideologi Digital Pancasila (LIDP)”
Tujuan
Meningkatkan ketahanan ideologi masyarakat digital dengan menurunkan penyebaran konten disinformasi ideologis sebesar 30% dalam 3 tahun serta meningkatkan indeks literasi digital dan kebangsaan masyarakat, khususnya generasi muda.
Langkah Implementasi
1. Integrasi Literasi Ideologi Digital dalam Pendidikan
Memasukkan materi Pancasila dan kebangsaan berbasis digital dalam kurikulum sekolah dan perguruan tinggi.
Memasukkan materi Pancasila dan kebangsaan berbasis digital dalam kurikulum sekolah dan perguruan tinggi.
2. Pelatihan Literasi Digital Berbasis Komunitas
Program pelatihan bagi mahasiswa, komunitas pemuda, dan organisasi masyarakat untuk mengenali hoaks dan propaganda ideologis.
3. Kolaborasi dengan Platform Media Sosial
Kerja sama pemerintah dengan penyedia platform untuk memperkuat moderasi konten yang mengandung ujaran kebencian dan disinformasi ideologis.
4. Produksi Konten Positif Kebangsaan
Mendorong kreator lokal dan influencer untuk memproduksi konten Pancasila, toleransi, dan persatuan bangsa.
5. Penguatan Regulasi dan Penegakan Hukum Digital
Penegakan hukum yang konsisten terhadap penyebar hoaks dan propaganda yang mengancam ideologi negara.
Indikator Keberhasilan
Penurunan jumlah konten hoaks ideologis yang terverifikasi oleh lembaga terkait.
Peningkatan skor Indeks Literasi Digital Nasional.
Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kampanye digital kebangsaan.
Berkurangnya konflik sosial yang dipicu oleh isu ideologi di media sosial.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Ketahanan ideologi di media sosial merupakan sektor strategis dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia di era digital. Ancaman disinformasi dan polarisasi sosial menjadi anasir disintegrasi utama yang harus ditangani secara komprehensif. Melalui Program Literasi Ideologi Digital Pancasila, ketahanan ideologi dapat diperkuat secara realistis dan terukur dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, dan akademisi.
Pemerintah diharapkan berperan sebagai regulator dan fasilitator, masyarakat sebagai aktor aktif literasi digital, serta akademisi sebagai pengembang konsep dan evaluasi kebijakan. Sinergi ketiga pihak tersebut menjadi kunci untuk memastikan ideologi Pancasila tetap kokoh sebagai perekat bangsa di tengah dinamika ruang digital.

Komentar
Posting Komentar